Blog Mahasiswa FEUI – Manajemen angkatan 2006

Memahami Perilaku Konsumen Spiritual

Oleh : M. Sigit Wahyu Kurnianto

Memahami perilaku konsumen merupakan tugas penting pemasar. Dalam penciptaan produk, penentuan pasar sasaran, dan menentukan aktivitas promosi harus memperhatikan perilaku konsumen agar serangkaian strategi pemasaran yang dijalankan dapat tepat sasaran dan pengelolaan anggaran pemasaran dapat digunakan secara bijak.

Perilaku konsumen dari pasar sasaran ini dibedakan menjadi dua, yaitu pasar konsumen dan pasar organisasi atau industri. Pasar konsumen merupakan pembelian barang dan jasa untuk konsumsi pribadi. Pembelian ini dilakukan oleh end-user (konsumen akhir) yang dalam istilah marketing disebut B2C (Business to Customer). Sedangkan pasar organisasi atau industri merupakan pembelian yang dilakukan oleh organisasi yang memerlukan barang untuk diproduksi menjadi bentuk lain atau dijual kembali kepada pihak lain. Pembelian yang dilakukan oleh organisasi atau industri ini disebut B2B (Business to Business). Tulisan ini selanjutnya akan menyinggung perilaku konsumen end-user (B2C) yang dikaitkan dengan masalah spiritual.

Perilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor kebudayaan, kelas sosial, keluarga, status, kelompok/komunitas, usia, daur hidup seseorang, pekerjaan, gaya hidup dan lain-lain. Faktor-faktor ini dapat memberikan petunjuk bagi pemasar untuk melayani pembeli secara efektif.

Selain faktor-faktor yang berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen yang telah disebut tadi, Handi Irawan, chairman Frontier Consulting Group menguraikan bahwa perilaku konsumen Indonesia memiliki beberapa karakter yang unik yang salah satunya adalah sensitifitas religius. Karakter unik itu akan mengalami perubahan, tergantung waktu yang membuktikannya.

Ketertarikan konsumen tentang masalah religius ini tentu saja berhubungan empiris dengan semakin baiknya perilaku konsumen terhadap kesadaran spiritualnya. Perilaku konsumen spiritual tidak hanya memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi kebutuhan spiritual yang diwujudkan dengan aksi sosial antar sesama manusia sekaligus terhadap Tuhannya. Selain mengkonsumsi barang secukupnya, mereka menyisihkan sebagian pendapatannya untuk berderma. Pembelanjaan mereka tidak semata-mata bersifat konsumtif tetapi juga bersifat sosial.

Dalam perilaku konsumen spiritual, selain dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keluarga, status, dan usia, juga dipengaruhi oleh prinsip distributive justice yaitu prinsip mendistribusikan sebagian harta untuk kepentingan ekonomi kaum miskin sebagai menifestasi kecerdasan sosial setiap individu untuk keadilan universal. Perilaku konsumen spiritual, di satu sisi membelanjakan hartanya secara baik dan benar, tapi pada sisi yang lain membelanjakan harta untuk fakir miskin. Perilaku seperti ini erat kaitannya dengan kendali unsur-unsur manusia yang diungkapkan oleh Imam Ghazali, bahwa manusia memiliki jiwa, akal, dan hati. Ketiganya merupakan kesatuan yang menggerakkan motifasi membelanjakan hartanya.

Akal cenderung mengendalikan perilaku manusia untuk tidak boros, adil dalam membelanjakan barang yaitu sesuai dengan prioritas dan kebutuhan, serta selektif terhadap konsumsi barang apakah termasuk baik atau tidak.

Sedangkan hati merupakan kendali terhadap ego manusia. Dengan hati, manusia dapat membuat dirinya dekat dengan Tuhan maupun dekat dengan sesamanya. Keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan sesamanya merupakan manifestasi dari hati yang bersih.

Unsur yang lain adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yang lain. Dengan jiwanya, manusia bisa mengendalikan hawa nafsu, sehingga dapat mencapai tingkatan tinggi dalam kesempurnaan spiritual. Karena hawa nafsu yang tak terkendali bisa menjadikan derajatnya hina dimata Tuhan dan sesamanya.

Integrasi jiwa, akal dan hati, akan bermuara pada kualitas kemanusiaan yang sempurna. Setiap individu akan digiring pada kesadaran sosial yang sekarang ini cenderung terlupakan di tengah banjirnya tawaran produsen.

Dewasa ini, perilaku konsumen spiritual berkembang cukup baik di Indonesia. Hal ini mendorong berkembangnya organisasi-organisasi amal yang dikelola oleh rumah ibadah, yayasan keagamaan-sosial maupun yang bersifat independen. Tumbuhnya organisasi-organisasi ini dapat berdampak pada berkembangnya perekonomian berbasis kerakyatan yang dilandasi rasa keadilan sesama.

Perilaku konsumen spiritual bisa dilihat sebagai koreksi atas kecendrungan gaya hidup hedonisme dan individualisme. Perilaku konsumen spiritual memberikan arah baru bagi orang-orang yang masih bergaya hedonisme dan individualisme tersebut, karena agama berpesan bahwa kelebihan harta harus terdistribusikan secara merata kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Oleh karena itu, seorang pemasar harus memahami perilaku konsumennya. Kampanye “bertunangan dengan konsumen” yang semakin membumi ini menjadikan pemasar lebih dekat kepada konsumen dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen. Sebenarnya perilaku konsumen tidak hanya dirasakan penting oleh pemasar saja tetapi oleh semua pihak yang memiliki kepentingan dengan pihak lain juga. Pihak Pemerintah pun seharusnya perlu memahami perilaku konsumen agar kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan yang “katanya” berpihak pada rakyat kecil dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Perilaku konsumen spiritual pada gilirannya akan menjadikan seseorang sadar akan status kemanusiaannya. Konsumen tidak menjadi bulan-bulanan produsen yang cenderung memanjakan hasrat tidak pernah merasa puas. Dalam perilaku konsumen spiritual, barang dan jasa dipandang sebagai komoditas yang berguna untuk kemanusiaan universal, tidak direduksi dengan sifat hedonisme dan indvidualisme yang selama ini mewarnai setiap perilaku konsumen. (by sigit wahyu).

Comments on: "Memahami Perilaku Konsumen Spiritual" (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: