Blog Mahasiswa FEUI – Manajemen angkatan 2006

Oleh: Moch. Sigit Wahyu Kurnianto 

Brand yang diterjemahkan menjadi merek, saat ini tidak menjadi tanggung jawab departemen pemasaran suatu perusahaan.  Merek sudah lebih mengglobal seiring dengan kesadaran orang tentang pentingnya differensiasi sebagai identitas antara produk kita dengan produk lain. 

Dalam ilmu pemasaran diri kita dapat dikatakan sebagai merek dengan istilah personal branding.  Orang yang memperhatikan pentingnya personal branding akan berupaya membangun karakter dirinya berbeda dengan orang lain.  Dia akan menjadi diri sendiri dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya sebagai modal bersaing secara sehat.   

Membicarakan spiritual tak lepas dari kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Oleh karena itu, disini akan dibahas sekelumit tentang kecerdasan tersebut. 

Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual 

Kecerdasan intelektual tidak menjamin kesuksesan seseorang.  Banyak contoh yang menunjukkan, seseorang yang cerdas secara intelektual belum tentu sukses di pekerjaan atau kariernya.  Menurut Lyle Spencer Jr, direktur riset dan teknologi dan pendiri perusahaan konsultan Hay/Mc Ber mengatakan, “Ilmu hanyalah kemampuan kecakapan untuk masuk ke suatu bidang tetapi tidak menjadikan Anda bintang. Kecerdasan emosi yang sesungguhnya lebih berperan untuk menghasilkan kinerja yang cemerlang”. Kecerdasan emosi antara lain; ketangguhan, inisiatif, opmitisme, kemampuan adaptasi dan lain-lain.  Kecerdasan emosi berasal dari suara hati.  Robert K.Cooper Phd mengatakan, “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani.  Hati mampu mengetahui hal-hal yang tidak boleh atau tidak dapat diketahui oleh pikiran kita.  Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas serta komitmen.  Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita untuk melakukan pembelajaran, menciptakan kerjasama, memimpin serta melayani”. Hati merupakan pembimbing langkah-langkah yang akan diperbuat.  Suara hati memberikan dorongan untuk memancarkan nilai-nilai spiritualitas.  Dorongan dari suara hati ini memberikan keyakinan bahwa Allah dekat.  Dengan adanya suara hati akan melahirkan sikap dan perilaku yang baik.   

Selain itu V.S Ramachandran menemukan adanya fungsi God Spot yang telah terintegrasi dalam otak manusia. God Spot inilah yang berfungsi sebagai pembimbing manusia untuk terus mencari makna hidup. God Spot mengendalikan hati untuk terus memancarkan nilai spiritualitas. God Spot inilah yang akan melahirkan kecerdasan spiritual. 

Menurut Prof. Danah Zohar dan Prof. Ian Marshall dari Harvard University dan Oxford University dalam buku “Spiritual Quotient (SQ)” memaparkan bahwa kecerdasan spiritual berkaitan erat dengan persoalan makna hidup. Kecerdasan itu menilai langkah-langkah seseorang lebih bermakna dibandingkan orang lain. 

Manusia yang berhasil menemukan makna hidupnya akan memancarkan nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya.  Kehidupan yang dijalaninya dipenuhi oleh kosakata kebaikan untuk kemaslahatan lingkungan sekelilingnya. Kecerdasan spiritual hendaknya menjadi landasan bagi kecerdasan emosional maupun kecerdasan intelektual.  Kecerdasan spiritual yang tinggi menjadikan kita dekat dengan Tuhan.  Selain itu membentuk perilaku dan kepribadian yang baik, karena menjadi prinsip hidup di dunia ini.   

Tugas manusia ada tiga; ibadah, sebagai pemimpin, dan menyebarkan manfaat.  Dalam Ibadah, harus meyakini dirinya diciptakan Allah untuk beribadah.  Segala perbuatan di dunia dinilai sebagai ibadah yang dipersembahkan untuk Tuhan Sang Pencipta.  Sebagai pemimpin, Kita diciptakan Allah untuk menjadi pemimpin dan wakil-Nya di muka bumi ini dengan berkarya seoptimal mungkin.  Sedangkan dalam menyebarkan manfaat, semua aktivitas yang kita lakukan harus merupakan pencerminan dan teladan bagi diri sendiri khususnya dan masyarakat pada umumnya.   

Personal Branding 

Merek dalam pemasaran memegang peranan yang sangat penting.  Merek merupakan pembeda produk barang dan jasa dari produk pesaing.  Seperti halnya produk barang dan jasa, diri sendiri juga dapat membangun merek.  Proses membangun personal branding dimulai dari membentuk karakter melalui kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual.   

Seiring dengan proses pembangunan personal branding, upaya-upaya menjaga citra diri juga sangat penting.   Ilmu manajemen umum maupun pemasaran mengajarkan tentang analisis SWOT yang bisa diaplikasikan dalam menjaga citra diri.  Strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (kesempatan) dan threat (ancaman) secara otomatis akan merubah peta kompetisi dan memacu diri sendiri untuk lebih jeli dalam merumuskan citra dan potensi yang akan ditonjolkan. 

Kecuali itu, merek merupakan nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan.  Merek dibangun agar memiliki top of mind dan brand awareness yang tinggi, untuk selanjutnya menjadikan merek memiliki ekuitas yang kuat.  Merek yang kuat memudahkan orang untuk mengkomunikasikan produknya, karena semua orang telah percaya terhadap berbagai keunggulan merek tersebut.  Beberapa tokoh dan artis yang menyadari bahwa personal branding itu penting akan berusaha menyempurnakan kelebihan-kelebihan pada dirinya dengan sebaik-baiknya. 

Kepribadian yang baik dapat menjadi keunggulan personal branding yang berlandaskan pada tiga kecerdasan yaitu spiritual, emosional dan intelektual.  Seseorang yang cerdas secara spiritual dan emosional memiliki sifat-sifat terpuji.  Sifat-sifat terpuji ini lahir dari hubungan transedental dirinya dengan Tuhan melalui bisikan nurani atau suara hati.  Prinsip kejujuran, empati, cinta, dan kepedulian menjadi dominan dan merupakan keunggulan personal branding.  Keunggulan sifat inilah yang akan melahirkan hati yang bersih.  Keyakinan bahwa Allah senantiasa dekat dan langkah-langkah yang diperbuat merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan.  

Implementasi ilmu pemasaran dalam diri sangat penting karena diri kita tidak ubahnya sebuah produk dan keunggulan-keunggulan kita ini merupakan potensi untuk menciptakan brand awareness.  Brand awareness yang tinggi akan menaikkan popularitas merek (personal branding) sehingga sifat-sifat mulia dan kejernihan hati akan terekam di pikiran semua orang.  Personal branding yang kuat akan memudahkan orang untuk mengkomunikasikan dirinya karena semua orang telah percaya keunggulan dan potensi orang tersebut.   

Walhasil, personal branding yang perlu kita lakukan, apakah kita artis, politis bahkan orang biasa sekalipun harus dibangun dengan kecerdasan emosi dan spiritual.  Nilai-nilai yang dihasilkan dari kecerdasan emosi dan spiritual ini melahirkan spiritualitas sebagai personal branding dan menjadikan seseorang mulia di hadapan manusia dan Tuhannya (Sigit Wahyu). 

Comments on: "Spiritualitas Sebagai Personal Branding" (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: